18
Sep

Kemegahan Karya Arsitektur Peradaban Kuno

Bangunan-bangunan megah bersejarah peninggalan dari masa lampau adalah bukti bahwa ilmu arsitektur sangat penting dalam memahami perkembangan peradaban dunia.

Banyak bangunan-bangunan kuno yang tersebar di penjuru dunia menjelaskan kepada kita bagaimana hebatnya ilmu arsitektur dari berabad-abad lampau.

Nenek moyang kita telah memahami bahwa bangunan dapat menjadi bukti sejarah kebesaran peradaban mereka di masa depan. Hingga kini kita dapat melihat dan mempelajari seperti apa kemampuan mereka menciptakan bangunan-bangunan hebat tersebut.

Berikut kami merangkum 5 karya megah arsitektur peradaban kuno yang tersebar diberbagai pelosok dunia, baik yang masih berdiri ataupun sudah punah :

Mercusuar Iskandariyah Mesir

Mercusuar Iskandariyah Mesir

Mercusuar yang dibangun pada abad ke-3 SM berdiri di pulau Pharos berdekatan dengan kota Iskandariyah kuno, Mesir Kuno. Ketinggiannya diperkirakan melebihi 115 meter dan merupakan antara struktur tertinggi ciptaan manusia selama beratus-ratus tahun

Dirancang oleh Sostratus dari Snidus atas petunjuk Satrap (Gubernur) Ptolemeus I, seorang panglima Alexander Agung. Setelah Alexander meninggal dunia, Ptolemeus memproklamasikan diri sebagai raja baru dan mengarahkan pembangunan mercusuar. Bangunan ini disiapkan semasa pemerintahan anaknya, Ptolemeus II Philadelphus.

Dari cerita-cerita legenda, bangunan ini dapat dilihat dari jarak sejauh 56 km. Bangunan ini dibangun menggunakan batu berwarna muda dan terdiri dari tiga bagian; bagian segi empat tepat bawah dengan teras pusat, bagian delapan sisi tengah dan bagian bulat atas.

Sebuah cermin besar yang memantul cahaya matahari diletakkan di mercunya, jika malam hari, api digunakan sebagai cahaya pengganti untuk memantulkan suar. Arca Dewa Laut, Poseidon didirikan di puncaknya pada zaman Kekaisaran Romawi.

Candi Boroudur, Indonesia

Candi Boroudur Indonesia

Candi ini adalah monumen Buddha terbesar di dunia yang telah diakui oleh UNESCO. Mahakarya Agung ini memiliki sekira 2672 panel relief yang konon apabila dibentangkan akan mencapai panjang 6 kilometer. UNESCO bahkan mengakuinya sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia.

Untuk membangun candi ini dibutuhkan sekira 2 juta balok batu vulkanik raksasa yang dipahat sedemikian rupa sehingga dapat saling mengunci (interlock) meski tanpa menggunakan semen atau perekat apa pun.

Ibarat permainan lego, candi yang diarsiteki oleh Gunadharma ini tersusun indah dengan pahatan-pahatan relief yang menggambarkan kisah-kisah kehidupan, sebuah mahakarya seni yang utuh dan luar biasa tinggi nilainya.

Borobudur adalah bukti bahwa bangsa ini pernah mencapai puncak keindahaan teknik arsitektur berpadu dengan estetika seni rupa Buddha di Jawa. Bangunan ini sendiri diilhami gagasan dharma dari India, antara lain stupa, dan mandala.

Taman Gantung Babilonia, Irak

Taman Gantung abilonia, Irak

Dibangun Raja Nebukadnezar II yang puncak kejayaannya sekitar 612 SM, Taman Gantung Babylon ini menjadi monumen agung Kerajaan Babylon. Luas taman ini diperkirakan 4 are (1 acre = 4046.86 m²). Wujud arsitekuralnya sangat unik, karena bertingkat-tingkat.

Taman ini ditanami berbagai pepohonan indah dan dilengkapi sistem pengairan hingga ketinggian 100 meter di atas permukaan tanah. Dari puncak taman ini dapat disaksikan pemandangan di sekeliling Kerajaan Babylonia.

Taman ini dipersembahkan sebagai hadiah untuk istrinya Amyitis yang merindukan kampung halamannya yang penuh pepohonana dan tumbuhan tropis karena kabarnya Amyitis ini berasal dari Nusantara (Indonesia sekarang).

Taman ini diperkirakan hancur sekitar 2 abad sebelum masehi. Lembaran sejarah paling tua yang mencatat karya arsitektur yang dilengkapi taman sebagai wujud cinta kasih terhadap seseorang yang sangat disayangi adalah di Mesopotamia, Irak purba.

Taman gantung merupakan wujud arsitektur pertamanan khas Mesopotamia, yang telah dikenal rakyat Mesopotamia sejak masa pemerintahan Raja Hammurabi (kakek Nebukadnezar II) di Kerajaan Babylon lama (1792-1750 SM)

Saat itu bangunan-bangunan kota yang tinggi biasanya ditanami tanaman-tanaman yang indah, sehingga dari kejauhan terlihat seperti taman yang menggantung.

Machu Picchu, Peru

Machu Picchu, Peru

Sering juga disebut “Kota Inca yang hilang” adalah sebuah lokasi reruntuhan Inca pra-Columbus yang terletak di wilayah pegunungan pada ketinggian sekitar 2.350 m di atas permukaan laut. Machu Picchu berada di atas lembah Urubamba di Peru, sekitar 70 km barat laut Cusco.

Simbol peradaban Kerajaan Inka yang paling terkenal ini dibangun sekitar tahun 1450, namun ditinggalkan seratus tahun kemudian, saat bangsa Spanyol berhasil menaklukan Kerajaan Inka. Situs ini sempat terlupakan oleh dunia internasional, tetapi tidak oleh masyarakat lokal.

Situs ini kembali ditemukan oleh arkeolog dari universitas Yale Hiram Bingham III yang menemukannya kembali pada tahun1911. Sejak itu, Machu Picchu menjadi objek wisata yang menarik bagi para turis lokal maupun asing.

Machu Picchu dibangun dengan gaya Inka kuno dengan batu tembok berpelitur. Bangunan utamanya adalah Intihuatana, Kuil Matahari, dan Ruangan Tiga Jendela. Situs tersebut telah ditunjuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1983, Machu Picchu juga merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia baru.

Petra, Yordania

Petra, Yordania

Petra berasal dari bahasa Yunani yang berarti batu. Petra adalah kota yang arsitekturnya sangat unik karena dipahat pada bebatuan. Diperkirakan dibangun pada awal tahun 312 sebelum masehi, sebagai ibu kota dari Nabath, yang sekarang menjadi simbol dari Yordania.

Tempat ini terletak pada yang terletak di dataran rendah di antara gunung-gunung Gunung Hor yang membentuk sayap timur Wadi Araba, lembah besar yang berawal dari Laut Mati sampai Teluk Aqaba.

Situs ini tidak pernah diketemukan oleh dunia barat hingga 1812, ketika pengelana dari Swiss, Johann Ludwig Burckhardt menemukannya untuk pertama kalinya. Kini menjadi tempat kunjungan favorit para turis.

Petra, tersembunyi di antara bebatuan dan tebing bertingkat dengan pasokan air yang sangat baik, menjadikannya tempat ideal untuk sebuah kota mandiri. Suku Nabatea membangun Petra dengan sistem pengairan yang luar biasa rumit.

Terdapat terowongan air dan bilik air yang menyalurkan air bersih ke kota, sehingga mencegah banjir mendadak. Mereka juga telah memiliki teknologi hidrolik untuk mengangkat air. Petra telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 6 Desember 1985.

Source: propertyinside